Semar is Maya

"Musuh Terbesarmu adalah Dirimu Sendiri…"

Archive for the month “May, 2013”

Matikan TV-Mu!

Membaca infographic ternyata menyenangkan. Saya baru menemukan fakta baru dari infographic mengenai buku: “Books contain 50% more rare words than prime time televison”. “Buku mengandung 50% kata sulit lebih banyak daripada acara televisi pada prime time. Artinya perbendaharaan kata kita akan lebih banyak bertambah dengan membaca buku (begitu juga menulis) selama 30 menit daripada hanya dengan menonton televisi dengan waktu yang sama. Fakta tersebut didukung dengan kualitas dari acara televisi yang kebanyakan semakin hari semakin  rating-oriented alias kontennya kurang bermutu.

Film seri (baca: sinetron) yang ada sekarang ceritanya mudah ditebak. Selalu itu-itu saja. Berita-berita yang ditampilkan sebagian besar adalah berita-berita negatif, bahkan ada acara khusus yang menampilkan berita-berita kriminal semacam pencurian, perampokan, pembunuhan, dan kasus-kasus kriminal lainnya. Banyak acara-acara talkshow pagi yang membahas permasalahan-permasalahan di negara, tapi menurut penilaian saya sampai sejauh ini tidak ada tindak lanjut mengupayakan solusi yang telah dibicarakan. Acara gosip makin menjamur bagai pelanggan jasa cuci motor di musim hujan. Yang menurut saya masih mendingan adalah acara kartun, walaupun kadang-kadang jam tayangnya kurang masuk akal. Jam setengah enam pagi sudah ada acara kartun yang tayang, bisa-bisa nyanyian bangun tidur kuterus mandi ganti lirik menjadi bangun tidur kuterus menonton TV.

Saya sudah hampir tidak pernah menonton televisi. Acara yang masih saya tonton adalah acara hiburan, seperti film kartun atau komedi, dan acara ilmu pengetahuan. Itu pun tidak rutin saya tonton. Kalau memang kebetulan ada waktu yang benar-benar luang saja saya akan menonton televisi, selebihnya saya lebih memilih hiburan lain, yaitu membaca buku, berselancar di internet,  menonton film di laptop (soalnya kalau nonton film di TV banyak yang disensor hehe), atau bermain game. Pokoknya waktu rata-rata saya menonton televisi setiap hari adalah kurang dari 60 menit.

Bagaimana dengan Anda? Apakah sebagian besar waktu Anda dihabiskan dengan menonton televisi? Bila jawaban Anda adalah ya, maka saya kembalikan kepada kutipan di atas. Coba kurangi waktu menonton TV Anda, ganti dengan membaca buku. Buku apapun, majalah juga boleh, atau lebih baik lagi bagi yang muslim membaca Al-Quran :D.

Advertisements

Lebih Fokus

Tadi malam saya menginap di kampus, tepatnya di Laboratorium Instrumentasi. Di sana saya mengerjakan tugas membuat alat salah satu mata kuliah yang saya ambil, yaitu Mikroprosesor dan Sistem Antarmuka. Walaupun sampai hari ini ternyata belum selesai juga, tapi saya menyadari satu hal setelah menginap di Laboratorium tersebut.

Suasana di sana lebih kondusif untuk mengerjakan sesuatu yang berhubungan dengan akademis sehingga saya merasa bisa lebih fokus dan konsentrasi penuh ketika mengerjakan tugas. Godaan yang ada lebih sedikit. Tempatnya juga tidak terlalu bising bila dibandingkan dengan tempat saya tinggal. Selain itu, banyak kawan-kawan yang satu “profesi”. Satu “profesi” yang saya maksud adalah mereka satu jurusan dan sedang mengerjakan tugas juga. Ada yang mengerjakan Tugas Akhir atau mengerjakan yang lainnya sehingga apabila suntuk atau mentok, bisa berdiskusi sejenak dengan kawan-kawan tersebut. Asal jangan keasyikan saja ngobrolnya. Hehe.

Setelah tugas Mikroprosesor ini selesai saya berencana untuk mulai menyusun draft Tugas Akhir saya. Belajar dari pengalaman tadi malam, besar kemungkinan saya mengerjakannya di Laboratorium, bukan di kostan. Semoga lancar.

Amiiin.

Babak Loro

Saya kira sudah saatnya saya masuk ke Babak Loro. Loro dalam bahasa Jawa artinya dua. Babak Loro adalah saat saya sudah mulai rutin menulis. Bisa dikatakan lebih rutin daripada babak sebelumnya, yaitu Babak Siji.

Di Babak Siji saya belum menemukan alasan saya untuk menulis. Terbukti frekuensi saya menulis pun sangat sangat rendah (tiga tulisan dalam tiga bulan) :D. Nah, lewat post saya yang ini saya menemukan “esensi” menulis bagi saya. Saya mencoba untuk menjadi (lebih) kreatif dengan cara rutin menulis. Alhamdulillah, saya sudah bisa menuliskan tiga tulisan dalam satu bulan ini (termasuk tulisan ini) ;).

Sebenarnya ada satu hal lagi yang turut mendongkrak semangat saya untuk terus menulis, yaitu selama di Babak Siji hit counter blog saya terus bertambah, bahkan menyentuh angka 100. Padahal bisa dikatakan saya sudah “meninggalkan” blog saya ini. Hehe. Sebenarnya (lagi) saya menulis bukan tidak berniat untuk mengejar pagerank, supaya dibaca orang, atau supaya beken :D, tapi entah mengapa saya menjadi bersemangat begitu melihat statistik blog saya tersebut. Jangan-jangan niat saya sudah melenceng? Wah, jangan sampai. Ayo luruskan niat kembali!

Akhir kata (kok kayak pidato ya??) Saya berharap di Babak Loro ini saya bisa rutin menulis minimal dua kali dalam satu minggu. Sementara frekuensinya cukup segitu dulu. Bila sudah bisa rutin, Insya Allah akan saya tingkatkan kembali. Bertahap ;).

Pemahaman Pancasila ala Sujiwo Tejo

pancasila

Banyak orang kenal dan tahu siapa itu Sujiwo Tejo, tapi saya yakin tidak banyak yang tahu atau minimal pernah membaca tentang tulisan beliau tentang Pancasila di buku yang berjudul “Lupa Endonesa”. Melalui tulisan ini saya ingin mencoba membahas (mengutip lebih tepatnya) tentang Pancasila. Ya, dasar negara Indonesia, tapi dalam perspektif Sang Maestro Wayang.

Sebelumnya saya ingin bercerita bahwa saya mengenal dunia wayang pertama kali dari buku beliau yang berjudul “Ngawur karena Benar”. Nah, buku Mbah Jiwo, begitu beliau biasa dipanggil, yang selanjutnya  saya beli adalah “Lupa Endonesa”.

Di dalam “Lupa Endonesa”, melalui tokoh bernama Bambungan, seorang lulusan Teknik Mesin yang memilih bekerja menjadi pengajar Pancasila, Mbah Jiwo mengemukakan “ruh”-nya Pancasila. Tidak hanya sekedar permainan kata-kata yang indah, tapi juga memiliki makna yang tidak bisa saya ungkapkan dengan kata-kata. Penasaran? Silakan dilanjut membaca…

Ketuhanan Yang Maha Esa berarti seluruh warga terutama para pemimpinnya, lebih-lebih pemimpin puncanya, yakni kepala negara, harus suwungSuwung itu zero, tapi bukan empty. Pemimpin hanya melekat pada Tuhan. Dia tidak melekat pada yang lain, termasuk pada harta benda yang dimilikinya. Pemimpin boleh kaya dan berkuasa (berisi), tapi tidak boleh mempunyai kemelekatan pada harta benda dan kekuasaan tersebut (kosong).”

Kemanusiaan yang Adil dan Beradab berarti manakala kemaslahatan bersama dunia membutuhkan harta benda dan kekuasaannya, pemimpin terutama pemimpin tertinggi yang telah suwung harus merelakannya. Ini bagaikan Prabu Yudhistira yang bahkan merelakan darah dagingnya sendiri diiris. Bagaikan Nabi Ibrahim yang bahkan merelakan anaknya sendiri buat disembelih.”

Persatuan Indonesia berarti menjaga agar Indonesia tetap utuh, agar keanekaragaman di dunia tetap terpelihara. Tidak bisa seluruh dunia kita jadikan satu negara dan satu bangsa. Ini akan menyalahi kodrat ilma unsur sumber daya alam, yaitu materi, waktu, energi, ruang, dan keanekaragaman.”

“Selanjutnya hanya orang-orang yang terbukti mampu menjaga keanekaragaman dunia melalui persatuan Indonesia dalam ranah kemanusiaan atas dasar ketuhanan, itulah yang berhak memimpin musyawarah mufakat. Itulah seyogianya nuansa dari sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan.”

“Tak boleh ada musyawarah apa pun yang agendanya bukan untuk sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Seluruh rapat, kumpul-kumpul, yang agendanya bukan untuk itu, dinyatakan ilegal….”

Saya betul-betul terpana dan kagum saat membacanya. Selama menjadi warga negara Indonesia, Sejak SD kelas 1 sampai sekarang menjadi mahasiswa tingkat akhir, saya belum pernah mendapatkan pemahaman Pancasila yang begitu dalam seperti yang diutarakan oleh Mbah Jiwo. Baru sekarang saya merasa benar-benar “berkenalan” dengan apa yang menjadi dasar negara Indonesia yang saya cintai ini.

Akhir kata,

Kerenlah pokoknya! Mantap!

Menulis untuk Menjadi Kreatif!

Di pagi yang cerah dan menyenangkan ini, akhirnya, saya mulai mencoba menulis kembali. Mau tahu kenapa? Saya terinspirasi oleh tulisan Pak Budi di blog beliau. Beliau menulis “Bagi saya, salah satu cara agar saya tetap kreatif adalah dengan ngeblog di tempat ini. Saya berusaha menulis *setiap hari*. Artinya saya ditantang untuk mencari sebuah topik setiap hari dan kemudian menuliskan sesuatu tentang topik itu. Harapannya topiknya yang menarik dan tulisannya menarik juga.”. Ingat tulisan saya tentang alasan saya untuk menulis itu apa? Akhirnya saya menemukan (salah satu) alasan untuk (tetap) menulis.

Nah, ‘kan otak saya buntu tidak tahu mau nulis apa lagi. Oh iya, saya pernah baca sebuah tulisan yang menyebutkan bahwa agar kita bisa tergerak dan konsisten dalam melakukan sesuatu, temukan dan “perbesar”-lah alasan atau tujuannya. Perbesar yang dimaksud di sini adalah perbesar ruang lingkupnya. Coba temukan pengaruh tujuan kita terhadap orang-orang dan lingkungan di sekitar kita, bukan hanya untuk kepentingan diri sendiri semata.

Contohnya alasan saya menulis dalam tulisan ini adalah untuk menjadi kreatif, dengan menjadi kreatif saya berharap bisa lebih bermanfaat bagi orang-orang lain atau ketika bekerja nanti bisa memiliki nilai lebih bagi perusahaan tempat saya bekerja. Begitu. Bisa juga bermanfaat dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan dalam hidup. Haha. Mengerti, kan? Hehe.

Sebagai penutup saya ucapkan terima kasih untuk Pak Budi yang senantiasa konsisten untuk menulis, terutama untuk inspirasi yang telah diberikan kepada saya :D.

See ya!

Post Navigation