Semar is Maya

"Musuh Terbesarmu adalah Dirimu Sendiri…"

Pemahaman Pancasila ala Sujiwo Tejo

pancasila

Banyak orang kenal dan tahu siapa itu Sujiwo Tejo, tapi saya yakin tidak banyak yang tahu atau minimal pernah membaca tentang tulisan beliau tentang Pancasila di buku yang berjudul “Lupa Endonesa”. Melalui tulisan ini saya ingin mencoba membahas (mengutip lebih tepatnya) tentang Pancasila. Ya, dasar negara Indonesia, tapi dalam perspektif Sang Maestro Wayang.

Sebelumnya saya ingin bercerita bahwa saya mengenal dunia wayang pertama kali dari buku beliau yang berjudul “Ngawur karena Benar”. Nah, buku Mbah Jiwo, begitu beliau biasa dipanggil, yang selanjutnya  saya beli adalah “Lupa Endonesa”.

Di dalam “Lupa Endonesa”, melalui tokoh bernama Bambungan, seorang lulusan Teknik Mesin yang memilih bekerja menjadi pengajar Pancasila, Mbah Jiwo mengemukakan “ruh”-nya Pancasila. Tidak hanya sekedar permainan kata-kata yang indah, tapi juga memiliki makna yang tidak bisa saya ungkapkan dengan kata-kata. Penasaran? Silakan dilanjut membaca…

Ketuhanan Yang Maha Esa berarti seluruh warga terutama para pemimpinnya, lebih-lebih pemimpin puncanya, yakni kepala negara, harus suwungSuwung itu zero, tapi bukan empty. Pemimpin hanya melekat pada Tuhan. Dia tidak melekat pada yang lain, termasuk pada harta benda yang dimilikinya. Pemimpin boleh kaya dan berkuasa (berisi), tapi tidak boleh mempunyai kemelekatan pada harta benda dan kekuasaan tersebut (kosong).”

Kemanusiaan yang Adil dan Beradab berarti manakala kemaslahatan bersama dunia membutuhkan harta benda dan kekuasaannya, pemimpin terutama pemimpin tertinggi yang telah suwung harus merelakannya. Ini bagaikan Prabu Yudhistira yang bahkan merelakan darah dagingnya sendiri diiris. Bagaikan Nabi Ibrahim yang bahkan merelakan anaknya sendiri buat disembelih.”

Persatuan Indonesia berarti menjaga agar Indonesia tetap utuh, agar keanekaragaman di dunia tetap terpelihara. Tidak bisa seluruh dunia kita jadikan satu negara dan satu bangsa. Ini akan menyalahi kodrat ilma unsur sumber daya alam, yaitu materi, waktu, energi, ruang, dan keanekaragaman.”

“Selanjutnya hanya orang-orang yang terbukti mampu menjaga keanekaragaman dunia melalui persatuan Indonesia dalam ranah kemanusiaan atas dasar ketuhanan, itulah yang berhak memimpin musyawarah mufakat. Itulah seyogianya nuansa dari sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan.”

“Tak boleh ada musyawarah apa pun yang agendanya bukan untuk sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Seluruh rapat, kumpul-kumpul, yang agendanya bukan untuk itu, dinyatakan ilegal….”

Saya betul-betul terpana dan kagum saat membacanya. Selama menjadi warga negara Indonesia, Sejak SD kelas 1 sampai sekarang menjadi mahasiswa tingkat akhir, saya belum pernah mendapatkan pemahaman Pancasila yang begitu dalam seperti yang diutarakan oleh Mbah Jiwo. Baru sekarang saya merasa benar-benar “berkenalan” dengan apa yang menjadi dasar negara Indonesia yang saya cintai ini.

Akhir kata,

Kerenlah pokoknya! Mantap!

Advertisements

Single Post Navigation

Tertarik berkomentar??

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: